Menikah dan Cinta

Posted: February 25, 2010 in menikah yuk..

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ba’da tahmid dan shalawat.
Maaf jika agak berat bahasanya.
Kali ini Saya tidak akan menjelaskan terlalu mendalam mengenai hal ini, karena saya bukanlah pakar cinta.

Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah kalian setuju dengan judul dari tulisan ini? Mengapa?

Pertama, apa itu cinta? Yang dapat saya berikan mengenai definisi cinta yaitu bahwa cinta merupakan emosi. Sebuah emosi yang kita rasakan dalam hati. Cinta merupakan strong emotion yang menjadi dasar bagi setiap insan untuk menyukai sesama lawan jenisnya. Dan karena itu juga banyak manusia di dunia menikah karena cinta kuat yang dimilikinya. Dan wajar sekali bukan? Tapi apakah mereka yang menikah karena cinta hidup dengan bahagia? Wah.. wah.. rasa-rasanya kalau berbicara mengenai kebahagiaan, akan relatif sekali jawabannya.

love is strong emotion

Ada yang mengatakan bahwa mereka yang menikah karena cinta akan tetap merasa bahagia karena cintalah yang akan mengikat perasaan dan sikap mereka dalam suka dan duka. Namun, ada juga pihak yang mengatakan bahwa mereka yang menikah karena cinta hanya akan mengecap kebahagiaan di awal-awal pernikahan mereka saja. Yah.. layaknya pengantin baru.. love is in the air.. Setiap suasana pasti penuh dengan cinta, rasa sayang, dan menjadikannya begitu indah.. Namun, setelah itu.. setelah beberapa bulan (mungkin) apakah mereka akan sebahagia sedia kala dengan telah mengetahui bahwa ternyata banyak hal di belakang itu semua yang menuntut adanya kesamaan pemikiran, pemahaman, pengertian, sikap, dan sebangsanya. Dalam hal ini, cinta seakan menyusut kadarnya…

Saya jadi teringat dengan omongan dari Mama Laurent yang mengatakan bahwa cinta itu seperti chewing gum, pada awalnya terasa sangat manis dan asik sekali di mulut. Namun setelah lama-lama dihisap, rasa manis itu pun akan hilang dan menjadi pahit. Dan apakah kita menelan permen karet yang sudah lama kita hisap? Tidak bukan?! Mungkin (terkadang) sedikit banyak kita dapat menganalogikan cinta dengan chewing gum..

love is like a chewing gum?

Hmm, tapi saya juga teringat dari perkataan dari Mario Teguh dengan Golden Ways-nya mengenai cinta. Menurut Golden Ways-nya Mario Teguh, memang ada femonena ketika rasa cinta terasa luntur setelah pasangan menikah untuk beberapa waktu. Menurutnya, itu bukan karena cintanya yang luntur, tapi karena (katakanlah) suaminya tidak menghargai istrinya seperti sediakala ketika sebelum menikah. Hmm kalau kayak gini repot juga ya? Saling menghargai memang jadi kunci penting dalam pernikahan..

By the way.. let’s back to the topic..

Lantas jika ada yang mengatakan bahwa menikah karena cinta itu tidak akan bahagia, atau dapat dikatakan bahagianya hanya di awal pernikahan saja, lantas ada opsi lain?

Ya, tentu ada. Ternyata ada pihak lain yang berargumen bahwa menikah tidak karena cinta bisa dijalankan. Pemikiran yang menurut saya kontemporer ini menganggap bahwa harus ada hal-hal di luar cinta yang sifatnya mengikat di dalam pernikahan, agar pernikahan itu sendiri dapat berjalan baik. Apa itu? Prinsip! Ya, menurut mereka kesamaan prinsip dijadikan alasan sekaligus pengikat yang lebih kuat daripada cinta di antara mereka itu sendiri. Mereka berdalih, mereka menikah tidak hanya karena cinta, tapi juga kesamaan prinsip atau visi dalam menjalani the rest of their lives. Prinsip yang mereka maksud di sini salah satunya yaitu prinsip managemen, seperti kesamaan pandangan mereka untuk bagaimana mengatur uang, anak, pendidikan mereka serta anaknya kelak, karier masing-masing, menentukan sikap dalam berbagai hal, dan sebagainya sehingga roda kehidupan rumah tangga mereka tetap dapat berjalan, instead of depending merely on love.

Mereka yang beranggapan seperti di atas menjadikan cinta justru sebagai bumbu di dalam pernikahan mereka. Lantas focal point dari pernikahan mereka yaitu menjalankan kehidupan dengan seseorang yang mempunyai prinsip ataupun visi yang sejalan dengannya dengan kadar cinta di antara keduanya yang lebih sedikit tentunya. Yang diupayakan adalah bagaimana agar rumah tangga yang dibinanya dapat terus berlangsung dan berjalan dengan baik dengan pasangan yang sejalan, seprinsip, dan sepaham dengannya. Karena, menurut mereka hal itu lebih penting daripada menanggalkan kehidupannya hanya pada cinta dan mendiscount informasi mengenai how to run their lives in the next days.. Dan mereka menjalankan hidup mereka dengan cinta yang dijadikannya bumbu penyedap dalam kehidupan mereka. Mau mencoba? heeee…

So, guys.. would you marry someone based on love or not??

Semoga tulisan ini dapat memberikan wawasan or broaden your horizon ‘bout love and marriage..

Wassalamu’alaikum wr. wb.

oleh : Isfadayu Moeslem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s